Bab 10: Latar Dunia - Nusantara Era Keilahian

Bab 10: Latar Dunia - Nusantara Era Keilahian

Dalam kegelapan pagi, Raka duduk termenung, matanya menatap lekat langit yang semakin terang. Kejadian malam itu, mimpi buruk yang menghantuinya, terasa seperti sebuah panggilan. Panggilan untuk sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kekuatan yang ada dalam dirinya. Tanah Leluhur ini, tempatnya berpijak, menyimpan banyak rahasia yang bahkan tak bisa dimengerti oleh banyak orang.

Sekar duduk di sampingnya, mengamati Raka yang tampaknya sedang tenggelam dalam pikirannya. "Kamu mulai merasa ada sesuatu yang lebih besar, bukan?" tanyanya, suaranya pelan, seolah tahu bahwa Raka sedang terhubung dengan sesuatu yang lebih dari sekadar dunia yang bisa dilihat.

Raka mengangguk, matanya masih menatap horizon yang perlahan berubah dari gelap menuju terang. "Ini bukan hanya tentang kutukan atau kekuatanku," ujarnya dengan suara pelan, "Ini tentang dunia yang lebih besar, sesuatu yang... lebih jauh."

Sekar tersenyum lembut. "Tanah Leluhur ini bukanlah tempat biasa. Ini adalah dunia yang dipenuhi dengan kisah-kisah para dewa dan makhluk gaib. Mereka dulu ada di sini, menjaga dunia ini agar tetap seimbang. Tapi setelah Pengorbanan Agung, semuanya berubah."

Raka menoleh padanya, penasaran. "Pengorbanan Agung? Apa itu?"

Sekar menghela napas, matanya jauh, seolah mengingat sebuah cerita yang tak mudah diungkapkan. "Pengorbanan Agung adalah peristiwa yang terjadi ratusan tahun lalu. Para dewa mengorbankan diri mereka untuk menjaga keseimbangan dunia ini. Mereka meninggalkan relik, pusaka, dan keajaiban yang tersebar di seluruh Nusantara. Tetapi setelah itu, para dewa menghilang, dan manusia mulai berjuang untuk kekuasaan, merusak apa yang telah dijaga oleh dewa-dewa."

Raka mendengarkan dengan seksama. "Jadi, ada sesuatu yang tersembunyi? Sesuatu yang bisa membantu menjaga keseimbangan dunia ini?"

Sekar mengangguk. "Ya. Beberapa keturunan dewa masih ada, dan mereka yang terpilih akan merasakan panggilan itu—untuk menyatukan dunia, untuk menemukan kembali keharmonisan yang hilang. Dan di antara mereka, mungkin ada orang seperti kamu, Raka."

Perasaan di dalam dada Raka semakin berat. Ia tidak tahu apakah ia siap untuk sebuah takdir sebesar itu, tetapi suara dalam hatinya semakin jelas, seolah mengatakan bahwa ia memang bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Seiring dengan perjalanan hidupnya, ia akan menghadapi lebih dari sekadar kekuatan yang mengalir dalam dirinya.

Kerajaan Sagara Raya

Jauh di pesisir laut, di sebuah kerajaan yang dikenal dengan nama Sagara Raya, lautan yang luas dan angin yang menyapu pantai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kerajaan ini dulu dipimpin oleh para dewa Samudra, yang mengajarkan cara berlayar, menjaga keharmonisan dengan laut, dan menghormati kekuatan alam yang maha besar. Namun kini, di bawah kepemimpinan para raja yang serakah, eksploitasi terhadap lautan tak terhindarkan. Sumber daya laut yang dulu dijaga dengan bijaksana mulai menipis, dan kerajaan ini perlahan tenggelam dalam ambisi kekuasaan yang tidak lagi mengenal batas.

Di tengah lautan yang tak kenal ampun, kapal-kapal besar berlayar untuk mencari harta karun yang tersembunyi, memanfaatkan teknologi pelayaran yang dulu diajarkan oleh dewa Samudra. Namun, meski mereka maju dalam hal teknologi, kekuatan laut yang dahulu menjaga mereka kini tampak menghindar. Setiap kali sebuah kapal melaju terlalu jauh ke samudra, badai besar sering terjadi, seolah alam itu sendiri menanggapi ketamakan manusia.

Hutan Wening Amerta

Sementara itu, di bagian dalam daratan, terletak Hutan Wening Amerta—sebuah hutan yang dihormati dan dipenuhi dengan misteri. Hutan ini dipercaya sebagai rumah Pohon Kehidupan, yang menyimpan rahasia keseimbangan alam dan kehidupan. Hutan ini dijaga oleh makhluk gaib yang sering dianggap sebagai penjaga dari dunia spiritual, serta oleh penduduk lokal yang dianggap sebagai keturunan para dewa alam.

Pohon Kehidupan sendiri dikabarkan memiliki kekuatan untuk memberikan kehidupan, namun juga bisa menghilangkan kehidupan jika keseimbangan alam terganggu. Hutan Wening Amerta bukan tempat sembarangan—hanya mereka yang memiliki darah keturunan dewa yang dapat memasuki tempat suci ini dengan selamat. Namun, setelah berabad-abad dijaga, kini banyak orang yang mulai melupakan makna penting dari pohon tersebut, bahkan ada yang mencoba untuk mengeksploitasinya demi kekuasaan.

Kota Batu Maja

Kota Batu Maja adalah simbol dari pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Dibangun di atas reruntuhan kuno yang penuh dengan relik para dewa, kota ini menjadi pusat teknologi dan kekuasaan. Namun, penggunaan relik para dewa yang ditemukan untuk tujuan senjata telah menciptakan ketidakseimbangan energi. Kota ini berkembang pesat dengan kemajuan teknologi, namun, ada banyak yang merasa ada sesuatu yang salah di dalamnya. Banyak orang mulai merasakan kekuatan yang tidak terlihat, yang menjalar di bawah permukaan kota.

Setiap kali sebuah relik ditemukan, energi yang terkandung di dalamnya membuat kota ini semakin penuh dengan ketegangan, seolah dunia itu sendiri mulai terbelah antara masa lalu dan masa depan, antara ilmu pengetahuan dan takhayul.

Gunung Kalabendu

Dan di ujung timur Nusantara, terdapat Gunung Kalabendu, yang dianggap sebagai pintu gerbang menuju dunia para dewa. Gunung ini menjadi legenda, dan banyak pendaki yang hilang di sana, terkadang hilang tanpa jejak. Namun ada yang kembali dengan cerita mistis tentang cahaya dan suara yang datang dari dalam gunung, tentang makhluk-makhluk gaib yang menjaga gerbang tersebut.

Puncak Kalabendu diyakini adalah tempat dimana rahasia terbesar tentang para dewa terkubur. Gunung ini juga dikenal sebagai tempat yang penuh dengan uji berat bagi siapa pun yang ingin mengungkap rahasia di balik dunia para dewa. Di dalam gunung ini, katanya, terdapat kekuatan yang bisa mengubah takdir—takdir manusia dan takdir dunia ini.


---

Raka menghela napas panjang. Semuanya terasa begitu jauh, namun dalam hatinya, ia merasa semakin dekat dengan takdir yang harus ia jalani. Keilahian yang tersembunyi, relik-relik yang terlupakan, dan rahasia yang mengelilingi Tanah Leluhur ini—semuanya mulai menyatu dalam pikirannya. Ia merasa bahwa langkahnya menuju penemuan besar sudah dimulai, meski ia tak tahu bagaimana perjalanan ini akan berakhir.

Sekar, yang berada di sampingnya, menatap Raka dengan penuh harapan. "Jangan takut, Raka. Apa pun yang akan datang, kita akan menghadapinya bersama."

Raka menatap ke horizon, matanya bertekad. "Ya, Sekar. Bersama kita akan menjaga harmoni yang dulu ada."

Mimpi buruknya belum berakhir, tetapi dengan pengetahuan yang baru tentang dunia ini, Raka merasa siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.


0 komentar:

Posting Komentar